Monday, January 21, 2008
HADIAH ULTAH [ter] DAN PALING LANGKA
Oleh: Badrud Tamam *
Sebenarnya, tidak tidur hingga larut malam kan biasa bagi seorang santri. Mana ada santri tidur di bawah jam 11-an? Namun, Gus Komar benar-benar tidak bisa terlelap hingga pagi menjelang! Akhirnya, dia dapat dua bonus. Pertama, seminggu ini ia selalu terlelap di Madrasah pagi. Bonus kedua, Yai Mustofa yang masih sahabat karib Abah saat di Pesantren Tebuireng sudah empat kali memajangnya di halaman Madrasah tepat ketika matahari di atas kepala. Sebelum mondok, Abah memang sudah wanti-wanti jika dirinya bertingkah dihukum saja. Soalnya, dia sudah terkenal sering bikin ulah. Abah sudah angkat tangan. Sekalian dipondokkan di sebrang kota sana. Gus Komar memang berasal dari pulau mungil di sebelah Surabaya. Madura. Tepatnya di Kabupaten Sampang. Dan kini, Abah memondokkannya di pesantren terpencil di daerah Sumenep. Jauh banget dari rumah. Abah memang kebangetan. Keterlaluan. Batinnya.

***


Untuk mengurangi kesepian, Gus Komar sengaja membawa seorang santrinya ikut serta. Mat Sirat namanya. Setahun mondok, dia jatuh cinta. Faizah namanya. Leganya, karena dia pun puteri kiai besar di Pamekasan. Hebatnya, cinta itu diterima dengan besar hati oleh Faizah. Jadi, ia yakin Abahnya pasti setuju-setuju saja.

Nah, di situlah semuanya berawal dan berakhir. Dua minggu lagi, Faizah ulang tahun. Dia pernah berjanji memberinya hadiah ultah paling istimewa, paling langka, dan paling mewakili aspirasi hati dan perasaan. Seminggu lebih, ia meminta Mat Sirat mencari ide terunik, terlangka, dan terpaling terjarang. Dia sendiri sudah mentok. Sekarang tinggal sisa seminggu. Saking panik, dia diam-diam keluar dari pondok dan jalan-jalan ke pasar. Barangkali, dapat ide spesial. Hingga sore, mereka tetap saja tidak memperoleh yang dimaksud. Mat Sirat sudah berpeluh keringat.
“Gus, mbok yang wajar saja kan jadi mudah?” saran Mat Sirat letih. Mereka pun beristirahat di depan toko buku dekat pasar. “Ning Faizah kan gila novel? Kasih saja dia novel?”
“Huh, itu sih basi! Kalau novel kan sudah biasa bagi dia? Dia kan kutunya novel!”
“Ya sudah, puisi saja gus!”
“Huh, apalagi itu! Sudah nggak jaman!” Mat Sirat tidak membantah lagi. Bisa-bisa didamprat beruntun. Sudah kapok dia.
“Cari yang baru! Yang langka!” teriak Gus Komar lagi. Peluh keringat Mat Sirat tambah membanjir.

Mat Sirat hanya bisa mengelus dada. Ia bingung sendiri, memangnya apa yang bisa dianggap gusnya itu hal baru? Menjelang magrib, barulah Mat Sirat lega. Sang Gus mengajak balik. Ia tahu, gusnya itu paling kapok berurusan dengan Yai Mustofa.

***


Malam yang ganas. Mat Sirat terpaksa ikut begadang di lantai atas pondok. Beberapa kali, kedua matanya mengatup ngantuk. Tapi Gus Komar cepat-cepat menyiramnya dengan air. Alasan Gus Komar, mencari ide secara berjamaah itu hukumnya sunnah dan lebih barokah ketimbang sendirian. .Malam berikutnya hingga dua hari berturut sehabis ngaji mereka diam bengong di sana. Baru hari ketiga, Gus Komar menggantinya dengan bengong berjamaah di asrama. Nah, di hari keempat, Gus Komar mulai berjingkrak-jingkrak saat iseng membuka lemari seorang santri di kamar blok Z.

“Nah, ini dia! Ini dia!” pekiknya membabi buta sambil memegang kuat-kuat sebuah buku kecil agak tebal. “Akhirnya! Ketemu! Ketemu! Ahaii!!! Wooii!! Ketemuuuu!!!”
Mat Sirat penasaran dan segera mengamati situasi. Ternyata gusnya sedang memegang sebuah novel.
“Kukasih dia novel ini Mat!” serunya kegirangan.
“Loh, katanya ngadiahin novel itu sudah basi gus?” sergahnya. Gus Komar langsung melotot.
“He, tapi novel ini beda! Beda! Coba lihat!” Gus Komar segera menunjukkan novel itu. Mat Sirat bingung. Soalnya, yang namanya novel ya, tetap novel kan?
“Justru itu letak bedanya Mat! Novel ini beda!” Gus Komar kemudian menyerahkan novel mungil itu.
“Baca judulnya. Dan lihat gambarnya. Nah, itu baru mengaspirasi isi hatiku! Huahaha!” Mat Sirat menelaahnya dengan seksama. “Nah, pas bener kan judulnya? Coba baca judulnya keras-keras Mat! Aku ingin mendengarnya dibacakan!’
Dengan masih bingung, Mat Sirat pun segera membacanya.

[Jadilah purnamaku ning!]

“Kurang keras Mat! Lebih keras lagi!”

[Jadi..lah pur…na..ma…ku nnnnning!]

“Huh, masak suaramu kayak bebek sakit encok?” Dengan suara pekak memelas Mat Sirat kembali membacanya lebih keras.

***


RAUT WAJAH Gus Komar langsung berubah saat tahu novel itu milik Gus Umar. Kalo sama-sama gus, mana mungkin bisa dikasih gratisan? Setidaknya minimal dikasih harga miring? Jengkelnya, karena ternyata Gus Umar tidak rela novelnya dibeli.
“Tiga puluh ribu ya?” Gus Umar tetap menggelengkan kepalanya.
“Empat puluh?”
“Nggak boleh!”
“Aku naikkan jadi tujuh puluh?”
“Pokoknya..tetap dan mutlak nggak boleh!”
“Aduh, penting banget nih, Mar. boleh dong ya?” pintanya mulai memelas. Kalau saja, dia mondok di kota dan bukan di daerah terpencil, sudah pasti ia mengubernya hingga dapat! Lha, di daerah pedalaman begini mana ada toko buku begituan?
“Aku itu dapatnya dari kakakku yang mondok di Malang. Sulit dapetin lagi!”
“Gimana, seratus?” kembali Gus Komar memaksa nego. Gus Umar terdiam. Kemudian dia mengangguk.
“Mmm, kalo harga segitu? Ya, sangat boleh!” katanya dengan mata bersinar-sinar. Gus Komar mendengus. Padahal, uang itu barusan saja dikirim sama Abah. Kini, ia hanya pegang uang limapuluh. Untuk sebulan?! Tapi kan demi cinta?

***


Jantung Gus Komar serasa lenyap, ketika Faizah keluar dari pintu. Tadi pagi, melalui tiliksandi rahasia, ia mengirim sandi khusus meminta Faizah datang ke salah satu rumah santri di dekat pasar. Seperti biasa, di tangan Faizah sebuah novel tergemgam. Gus Komar paham betul itu. Ke mana-mana, bukannya kitab yang dipegang. Tapi malah novel. Dia sampe bingung, bisa-bisanya Faizah segila itu sama novel. Dan ia yakin, novel di tangan dirinya adalah novel paling spesial. Ia sudah baca semua novel Faizah. Tak ada yang model begitu. Seumur-umur, baru kali ini ada novel seperti itu. Novel santri man! Mana Faizah punya novel beginian? Kisahnya, hampir mirip dengan kisah sepupu Faizah sendiri. Jadi, surprise banget deh! Dengan ragu-ragu, Faizah pun duduk di depannya yang berjarak dua meter.

“Aku punya hadiah spesial untukmu.” Katanya tanpa basa-basi.
“Hadiah?”
“Lho, kan hari ini kamu ultah?” Faizah tertawa halus.
“Hehe, aku lupa kalo lagi ultah. Nggak pernah dirayain sih! Mana?”

Supaya rasa penasaran Faizah bertambah Gus Komar memintanya meletakkan dulu novel yang dipengangnya di atas meja dan menutup mata. Setelah novel diletakkan di meja, Gus Komar baru mengeluarkan bungkusan dari dalam tasnya. Belum sempat bungkusan itu sampai di meja kedua matanya langsung beku. Beberapa saat ia tertegun. Rasanya, ingin ia memutar waktu mogok ke belakang dan kejadian ini tidak pernah terjadi. Tidak pernah. Sama sekali. Ia sangat ingin hari ini sedang bermimpi. Tapi mata tak bisa ditipu. Ini memang kenyataan. Ia harus menerima kenyataan; hadiah ultah itu bukan lagi sesuatu yang istimewa.

“Kamu beli di mana novelmu?” tanya Gus Komar kacau.
“Di koperasi pondok kan banyak?” Gus Komar bengong. Di koperasi pondok banyak? Yang bener? Berarti? Apa memang dirinya yang kurang gaul? Faizah segera membuka bungkusan itu hati-hati.
“Oh, ini hadiah ultah istimewamu?” tukas Faizah mesam-mesem. Kemudian ia meletakkan dua buah novel itu rapat di meja. Tampak serasi. Apalagi gambar covernya emang nginspirasi!
“Memang spesial. Sangat langka! Istimewa!” lanjut Faizah berulang. Wajah Gus Komar langsung merah seperti kumpulan api unggun. Tapi memang istimewa sih. Lihatlah, dua novel yang kini tergeletak di atas meja itu. Nggak! Bukan kembar kok. Tapi…

[huh, baca sendiri judul dua novelnya tuh!}
[JADILAH PURNAMAKU NING]
[heh, tapi kan novel milik Faizah lebih kusut!]

Langka bukan? Istimewa bukan?
[Kalau saja cowok boleh menangis… ]
Hiks!

_________________________________
*Alumnus Santri Mambaul Maarif
Denanyar Jombang Jawa Timur
Salam untuk penulis novel
[JADILAH PURNAMAKU NING]
[salut!]

Labels:


baca selengkapnya...!  
posted by isma at 11:22 PM | Permalink | 3 comments
Tuesday, May 01, 2007
PROBLEMATIKA CINTA
Oleh Hasan Kohar
PP Al-Falah II Nagrek Bandung
Kelas XII IPS


Berhembus semilir angin sepoi-sepoi. Sejuk terasa di hati. Abdul menengadahkan wajahnya. Menatap lekatnya awan yang menutupi langit biru yang cerah, sesekali awan itu menutupi matahari, memberikan kesejukan bagi bumi.
Di pinggir aula Abdul terlihat muram, padahal hari tampak cerah.
“Kenapa, Dul? Kok terlihat lesu? Ada masalah apa, cerita dong, aku kan sohibmu,” sapa Maman yang tiba-tiba datang menghampiri Abdul. Ia adalah teman dekat Abdul sejak kelas I. Bahkan ketika baru masuk mereka langsung akrab, tidak seperti teman-temannya yang lain.
Namun, Abdul hanya tersenyum dan berkata-kata, “Nggak ada apa-apa kok, Man.”
“Ga ada apa-apa gimana, Dul? Aku tahu kamu lagi ada masalah. Kita berteman sudah cukup lama. Aku tahu kalau kamu sedang ada masalah atau tidak. Sudahlah, Dul. Cerita aja,” kata Maman.
“Aku belum siap, Man. Aku masih ragu. Nanti juga aku certain ke kamu,” jawab Abdul singkat.


*****

Malam harinya Abdul sulit untuk memejamkan mata. Bayangan wajah Firda selalu menemani di setiap napas dan detak jantung. Firda adalah kekasihAbdul, mereka sudah hamper satu tahun berhubungan. Firda satu kelas di bawah Abdul. Abdul kelas XII sosial, sedangkan Firda kelas XI bahasa. Selama mereka berhubungan ada masa tenang dan masa gelisah. Mereka juga sempat putus, namun akhirnya mereka bisa bersatu kembali.
Namun entah mengapa akhir-akhir ini ada sesuatu yang membuatnya tambah sulit untuk memejamkan mata. Bayangan yang semula adalah senyuman Firda kini berubah menjadi bayangan Fina, yang berada dua tingkat di bawah kelas Abdul.
Abdul terus terjaga hingga dari kejauhan terdengar jerit suara azan yang mengalun perlahan namun syahdu dari speaker di atas kubah masjid. Suara itu seakan memecahkan kesunyian heningnya pagi. Para santri yang sudah bangun coba membangunkan teman-temannya yang lain, dan bergegas mengambil perlengkapan untuk mandi dan wudhu.

*****

Pagi itu usai shalat subuh dan wirid, Abdul dan Maman bergegas kembali ke kobong. Namun, betapa terkejutnya Abdul ketika hendak memakai sandalnya. Sepasang alas kakinya sudah tidak ada di tempatnya semua.
“Kemana ya sandalku?” Abdul mencari-cari. Ini bukan yang pertama kalinya sandal Abdul digashab.
“Sudahlah, Dul. Besok juga pasti ketemu,” usul Maman.
Akhirnya dengan hati yang berapi Abdul mengikuti langkah Maman kembali ke kobong. Meskipun ia harus menahan malu karena ketika berjalan melintasi rumah Pak Yai, ia melihat kekasih hatinya beserta teman-teman patrol sedang bertugas membersihkan rumah pak Yai. Abdul melihat teman-teman Firda seperti menertawakan dirinya karena berjalan dengan kaki telanjang. Wajah Abdul memerah padam. Abdul menarik lengan Maman agar berjalan lebih cepat.

****

Udara pagi masih sangat sejuk, menebarkan semerbak parfum yang sudah sangat dihapal oleh indera penciuman Abdul. Hari ini Abdul berjalan menuju ke sekolah berama Firda. Walaupun tanpa bergandengan tangan yang penuh dengan kemesraan, senyuman dan obrolan sudah sangat begitu membahagiakan. Sebenarnya mereka tidak boleh jalan berbarengan karena bila dipergoki oleh asatidz atau asatidzah, bisa mendapatkan hukuman atau takjiran.
Sesampai di sekolah mereka berpisah kelas. Namun mereka sempat berjanji akan bertemu selepas jam sekolah usai.

*****

Kring…kring…. Suara bel sekolah tanda waktu istirahat telah berkumandang. Semua siswa-siswi berhamburan dari kelas menuju kantin. Ketika Abdul sedang menuju kantin, ia sempat melihat Fina terus menatapnya.
“Hai, Fina,” akhirnya Abdul menyapa Fina.
Fina tersipu malu, menyiratkan rasa sukanya pada Abdul.
Abdul pun sebenarnya mulai tumbuh rasa yang serupa. Tapi sayang, Abdul sudah mempunyai Firda. Walau Fina belum mengetahui hubungan antara Abdul dengan Firda. Sementara Abdul tidak ingin menodai arti cinta yang telah mereka jalani.
Sepulang sekolah, Firda tampak berjalan dengan nampak sangat berat. Jalannya lambat sekali. Tanpa pikir panjang Abdul berlari mendekati Firda.
“Assalamualaikum…,” sapa Abdul.
Tapi, Firda diam tak menjawabnya. Membuat Abdul jadi merasa ada yang tidak seperti biasanya.
“Tunggu, Da. Kenapa Ida tampak murung hari ini, tidak seperti biasanya?” tanya Abdul dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Tapi lagi-lagi, bukannya jawaban manis, Firda malah menangis sejadi-jadinya. “Kamu sudah mengkhianati aku, menghianati janji cinta kita untuk saling setia. Firda lihat tadi, sewaktu istirahat, kamu bersama Fina bercanda. Fina sepertinya senang sekali, dan kamu juga senang kan!” todong Firda tiba-tiba.
“Aku ga ada hubungan apa-apa sama dia, aku cuma…,” belum sempat Abdul melanjutkan kata-kata, sebuah tamparan melayang di pipinya. Plak….!!! Bagai sambaran petir, telapak tangan lembut Firda membekas di pipi sebelah kiri Abdul.
“Aku sudah tidak mau lagi mendengar penjelasanmu. Ida sudah capek, sudah tidak sanggup lagi. Mulai detik ini, hari ini, kita putus,” Firda kemudian berlari meninggalkan Abdul yang berdiri terpaku, seakan tak percaya akan kejadian yang menimpanya.

****

Setiba di kobong, Abdul duduk terdiam menatap foto Firda. Air mata terlihat membanjiri pipinya. Maman yang melihat keadaan sohibnya semakin parah, ingin coba mendinginkan suasana.
“Kamu kenapa lagi sama Firda-mu itu?” tanya Maman penuh perhatian.
Perlahan Abdul mulai tenang. Kemudian ia mengusut air matanya dengan sorban yang dipakainya. “Aku putus, Man…,” ucapnya nyaris tak terdengar.
“Emang apa masalahnya, kok kalian bisa putus?” tanya Maman kemudian. Abdul lalu menceritakan semua kisahnya pada Maman. Ia menceritakan bahwa dirinya memang akhir-akhir ini ada perasaan yang aneh pada Fina.
“Mmm, gitu ya. Aku pikir lebih baik kamu coba menjelaskannya pada FIrda, melalui surat saja,” saran Maman kemudian.

*****

Sebelumnya Maman belum pernah berurusan dengan perempuan. Tapi demi menolong Abdul, ia pun rela berurusan dengan permasalahan sohibnya. Ketika istirahat Maman melihat Firda sedang duduk-duduk bersama teman-temannya. Dengan perasaan sangat malu Maman mendekati tempat duduk Firda dan memberikan surat Abdul untuknya. Hari itu Abdul tak bisa masuk sekolah karena sakit.
Firda menerima surat itu tanpa sepatah kata pun. Maman pun bergegas pergi menjauh dari mereka.
Tak perlu waktu lama bagi Firda untuk membaca dan memahami pesan Abdul dalam surat itu. Meski ia masih memerlukan suasana tersendiri untuk meresapi tulisan sang kekasih. Oleh karena itu, setelah memasukkan kembali surat itu dalam amplop, Firda melesat berlalu meninggalkan teman-temannya. Ia menuju tempat tersembunyi di belakang aula, untuk melanjutkan bacaannya. Di dalam surat itu, Abdul memberi teks lagu ST 12 yang berjudul “Aku masih sayang”. Lirik lagu yang menjadi gambaran lukisan perasaan Abdul.
Kau rinduku, jiwaku indah memanggil diriku
Mataku terbangun untuk melentik, menantiku
Jangan pernah kau ragukan cinta yang sesungguhnya
Itu bisa menghancurkan semua…bukan begitu…
Aku sungguh masih sayang padamu,
Jangan sampai kau meninggalkan aku
Begitu sangat berharga dirimu bagiku
Dan ku pastikan setia dihatimu
Dan ku korbankan semuanya untukmu
Sungguh ku berharap kau pun begitu pada ku.
Coba ku rasakan cinta yang begitu kan mengesankan
Yakin pasti dapatkan kemesraan yang penuh bintang.

******

Sehari berlalu, Abdul masih belum mendapat balasan. Dua, tiga, sampai seminggu, Abdul tetap tidak mendapatkan surat.
Sementara Firda, detik demi detik mulai merasakan kehampaan di dalam hidupnya karena tidak dapat melihat kekasih pujaan hatinya. Keesokan harinya Firda pun membalas surat Abdul melalui Maman.
“Bagaimana kabar Abdul, Man?” tanya Firda parau.
Maman tercekat. “Kamu tidak tahu kalau Abdul sekarang pulang ke rumah karena sakitnya bertambah parah?”
Kali ini giliran Firda yang tercekat kaget.

*****

Keesokan harinya Firda pergi ke rumah Abdul..untuk melihat bagaimana keadaan Abdul. Firda merasa amat bersalah atas segala sesuatu yang menimpa Abdul. Apalagi ketika melihat kondisi Abdul yang begitu memprihatinkan, Firda tak kuasa menahan jatuhnya air mata. Air matanya bercucuran membasahi pipi dan menetes di tangan Abdul.
Abdul terbangun. Setelah beberapa saat Firda mulai berhenti menangis, Abdul mengusap air mata yang meleleh di pipi Firda. Meski tanpa banyak kata, pada tatapan mereka terpendar ucapan maaf dari lubuk hati paling dalam. Keduanya tersenyum simpul, dan dunia pun kembali ceria.




Labels:


baca selengkapnya...!  
posted by isma at 8:10 PM | Permalink | 1 comments
Thursday, April 19, 2007
WORLD BOOK DAY 2007
23-29 April 2007


Pemrakarsa: Forum Indonesia Membaca


Penyelenggara: Forum Indonesia Membaca


Didukung oleh:

The Indonesian Literacy Institute

Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional




World Book Day yang dirancang oleh UNESCO sebagai sebuah perayaan buku dan literasi yang mendunia, perayaannya telah dimulai pelaksanaannya di Indonesia tahun 2006 oleh Forum Indonesia Membaca. Pada awalnya sebagai bagian dari perayaan Hari Saint George di wilayah Katalonia abad pertengahan para pria memberikan mawar pada kekasihnya. Namun sejak tahun 1923 para pedagang buku mempengaruhi tradisi ini untuk menghormati Miguel de Cervantes, seorang pengarang yang meninggal dunia pada tanggal 23 April sehingga sejak 1925 para perempuan memberikan sebuah buku sebagai pengganti mawar yang diterimanya. Pada masa itu lebih dari 400.000 buku terjual dan ditukarkan dengan 4 juta mawar.

Pada tahun 1995, Konferensi Umum Unesco di Paris memutuskan tanggal 23 April sebagai World Book Day karena festival Katalonia serta pada tanggal Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega, dan Josep Pla meninggal dunia, juga kelahiran Maurice Druob, Vladimir Nabokov, Manuel Mejia Vallejo dan Halldor Laxness. Walaupun pada kasus Shakespeare dan Carvantes ada sedikit perbedaan karena masing-masing meninggal dihitung dengan sistem kalender yang berbeda di mana masa itu Inggris masih mempergunakan sistem Kalender Julian sedangkan Katalonia mempergunakan sistem Kalender Gregorian.

Perayaan ini merupakan bentuk penghargaan dan kemitraan antara pengarang, penerbit, distributor, organisasi perbukuan, serta komunitas-komunitas yang semuanya bekerja sama mempromosikan buku dan literasi sebagai bentuk pengayaan diri dan meningkatkan nilai-nilai social budaya kemanusiaan. Secara umum, tujuan diselenggarakannya World Book Day sebagai sebuah world even adalah untuk menyemangati masyarakat, terutama kalangan anak-anak untuk mengeksplorasi manfaat dan kesenangan yang bias didapat dari buku dan membaca.

Acara-acara yang mengangkat dunia literasi sudah diselenggarakan di Indonesia, di antaranya adalah Hari Buku Nasional, Hari Kunjungan Perpustakaan, sampai berbagai pameran dan bazaar buku, di tingkat local maupun nasional. Seiring dengan adanya globalisasi informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan, sudah saatnya kita melebarkan aktivitas kita dalam dunia perbukuan dengan ikut berpartisipasi melakukan perayaan buku berskala internasional agar lebih menggaungkan literasi di tengah masyarakat Indonesia.

Forum Indonesia Membaca (FIM), sebuah organisasi kemasyarakatan yang berkonsentrasi di aktivitas literasi, berupaya membuka ruang partisipasi seluas-luasnya kepada masyarakat dalam penguatan budaya baca. Setelah sukses dengan World Book Day yang diadakan pertama kalinya di Indonesia pada tahun 2006 di gedung A Depdiknas Senayan Jakarta dan banyaknya permintaan dari komunitas literasi, penerbit buku, dan masyarakat umum maka di tahun 2007 Forum Indonesia Membaca berusaha merealisasikan kembali pelaksanaan World Book Day di Indonesia menjadi sebuah tradisi festival yang tujuannya untuk merayakan buku dan literasi, di mana acara World Book Day membuka partisipasi masyarakat sebesar-besarnya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya buku dan membaca, serta mengapresiasi dunia perbukuan.


Tema World Book Day 2007: Buku untuk Perubahan


Tempat Kegiatan: Gedung A Depdiknas Jl. Jendral Sudirman Jakarta


Nomor Stand Matapena: 27



Jadwal Kegiatan:




Kamis, 26 April 2007
Zona Anak dan Remaja




09.00-09.30 WIB

Pembukaan oleh Prof. Dr. Bambang Sudibyo

Panggung Utama World Book Day 2007



09.00-19.30 WIB

Pameran Komunitas Literasi dan Bursa Buku Murah

Area World Book Day 2007



09.30-17.00 WIB

LITERACY: WORKSHOP 1

Pengenalan Athenaeum Light 6.0 dan 8.5

(tempat terbatas)
Ruang belajar Perpustakaan Depdiknas

Kerjasama dengan Komunitas Athenaeum Light Indonesia (KALI)



10.00-11.00 WIB

LITERACY: TALK 1

Talkshow “Buku untuk Perubahan”

Moderator: Ali Muakhir

Pembicara: Cacha, Faiz, Izzati, dan Bella

Panggung Utama World Book Day 2007

Didukung oleh penerbit Mizan



11.00-12.00 WIB

LITERACY: GAMES

Dongeng dan Lomba Berburu Buku untuk Anak

Panggung Utama World Book Day 2007

Oleh HIMAKA Library Care

Didukung oleh Penerbit Erlangga dan Mizan

Informasi hubungi Riri 08174807809



11.00-13.00

LITERACY: MOVIE 1

Pemutaran Film: Multatuli (Rumah Dunia)

Ruang Tengah Perpustakaan Diknas

Oleh Rumah Dunia



12.00 WIB

LITERACY: QUIZ

Pembukaan Kuis Berburu Buku dan Tebak Buku untuk Remaja dan Dewasa

Meja informasi World Book Day 2007

Disponsori oleh Penerbit Erlangga



13.00-14.30

LITERACY: TALK 2

Literasi dalam Millenium Development Goals

Moderator: Harkrisyati Kamil

Pembicara:

1. Nasir Tamara – National Coordinator for Target MDGs UNDP

2. Amru Mahalli – Direktur CSR PT Riau Pulp and Paper

3. Perwakilan dari pendukung acara World Book Day 2007

Panggung Utama World Book Day 2007



14.30-16.00

LITERACY: COMMUNITY 1

Story Telling: Cerita dari Bilik Santri

“Pst..ssst… Dari Bilik Santri Ada Cerita Lho…”

Pembicara:

1. Zaki Zarung penulis Santri Baru Gede

2. Ruslan Ghofur penulis Geng Kopi ubruk

Panggung Anak dan Remaja

Oleh Matapena Community

Informasi hubungi Isma 08157970372




16.00-18.00

LITERACY: WORKSHOP 2

Dari Sekolah Hogwarts: “Belajar Singkat Arithmancy dan Anagram”

Panggung Anak dan Remaja

Oleh Indo-Harry Potter

Informasi hubungi Hadi 08567876956



16.00-18.00

LITERACY: MOVIE 2

Pemutaran Film the Chorus

Di Ruang Baca Perpustakaan Diknas





Jum’at, 27 April 2007

Kembali ke Masa Lalu




09.00-19.30

Pameran Komunitas Literasi dan Bursa Buku Murah

Area World Book Day 2007



09.30-11.30

LITERACY: TALK 3

Retrospeksi “Sutan Takdir Alisyabana”

Moderator: Heni Irawati

Pembicara:

1. Abu Hasan Asyari

2. Akmal Naseri B. (wartawan dan mailing list Apresiasi Sastra)

3. Ibnu Wahyudi (Dosen sastra UI)

Panggung Utama World Book Day 2007



11.00-13.00

LITERACY: MOVIE 4

Pemutaran Film Freedom Writers

Ruang Baca erpustakaan Diknas



14.00-16.00

LITERACY: TALK 4

Menilik Budaya Lisan dan Aksara Daerah

Moderator: Afzon Dakka (Komunitas Kajian Dongeng)

Pembicara:

1. Maya Ramayanthi (Pusat Kajian Dongeng UI)

2. Pudentia (Asosiasi Tradisi Lisan dan Dosen Sastra UI)

3. Aryo (Klub Pecinta Bacaan Anak)

Panggung Utama World Book Day 2007

Kerja sama dengan Komunitas Kajian Dongeng



15.00-17.00

LITERACY: WORKSHOP 3

“10 Cara Pedekate dengan Komik”

Ruang Belajar Perpustakaan Diknas

Oleh Masyarakat Komik Indonesia

Informasi hubungi Oyas 081322338807
Atau Wahyu 08151892437



16.00-17.30

LITERACY: WORKSHOP 4

Dari Sekolah Hogwarts: “Belajar Singkat dari Kartu: Trading Card Game Harry Potter, UNO Harry Potter, dan Ramalan Tarot”

Panggung Anak dan Remaja

Oleh Indo Harry Potter

Informasi hubungi Hadi 08567876956



16.00-18.00

LITERACY: MOVIE 4

Pemutaran Film dari Rumah Pelangi

Ruang Baca Perpustakaan Diknas

Oleh Rumah Pelangi



18.30-20.00

LITERACY: TALK 5

Reproduksi Cerita Lama

Moderator: Wien Muldian (Perpust Depdiknas)

Pembicara:

1. Merdy (Komunitas Wayang)

2. Pandu Ganesha (Paguyuban Karl May Indonesia)

3. Rieza Fitramuliawan (Tjerita Silat)

Ruang tengah Perpust Diknas




Sabtu, 28 April 2007

Membaca dan Menghibur
>



09.00-1930

Pameran Komunitas Literasi dan Bursa Buku Murah

Plasa Depdiknas



09.30-11.30

LITERACY: TALK 6

Read Aloud

Moderator: Rudy Sulistyawan (Britzone)

Pembicara:

1. Rito Triumbarto

2. Walter Brownsword

Panggung Utama World Book Day 2007



10.00-12.00

LITERACY: MOVIE 5

Sejarah yang Gaul dan Enak Dikonsumsi

Pemutaran Film Dokumenter Kota Lama dan Diskusi

Ruang baca Perpustakaan Diknas

Oleh Komunitas Historia

Informasi hubungi Rommy 0816100622



11.30-13.30

LITERACY: COMMUNITY 2

Bengkel Pena FLP (konsultasi penulisan)

Panggung Anak dan Remaja
Oleh FLP

Informasi hubungi Koko 081367675459



12.00-13.30

LITERACY: COMMUNITY 3

Create a Poem

Pembicara: Melanie

Ruang Baca Perpustakaan Diknas

Oleh Britzone Library@Senayan Speaking Club

Informasi hubungi Pras 085692028625



12.00-13.30

LITERACY: COMMUNITY 4

Selamat Datang di Hogwarts

Panggung Utama World Book Day 2007

Oleh Indo Harry Potter

Informasi hubungi Hadi 08567876956



13.00-17.00

LITERACY: TALK 7

Read and Write: Jika Cerdas Tidak Harus Mahal

Dibuka oleh Sarwono Kusumaatdja (DPD DKI Jakarta)

Moderator: Oni Suryaman

Pembicara:

1. How to Read a Book oleh Bagus Takwin dan Rieke Dyah Pitaloka

2. Writing Without Teacher oleh Donny Gahral dan Fira Basuki

Ruang Tengah Perpustakaan Diknas

Oleh Indonesia Publishing

Informasi hubungi Ari 0818126 707



13.30-14.00

LITERACY: EVENT 1

Penyerahan sumbangan buku dari Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Indonesia Utrecht kepada SDN I Legokherang-Kuningan dan SD Perguruan Rakyat 2 Jakarta.

Panggung Utama World Book Day 2007

Aoleh Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI)



14.00-16.00

LITERACY: TALK 8

Biblioholic Lifestyle

Moderator: Firman Venayaksa

Pembicara:

1. Joko Pinurbo (Budayawan)

2. Iwan Gayo (Penulis)

3. Dessy Sekar Astina (Forum Indonesia Membaca)

Panggung Utama World Book Day 2007



15.00-17.00

LITERACY: WORKSHOP 4

“10 Cara Pedekate Dengan Komik”

Ruang Belajar Perpustakaan Diknas

Oleh Masyarakat Komik Indonesia

Informasi Kedau Sinau dan PP Muhammadiyah



16.00-17.30

LITERACY: BOOK

Bedah Buku Khadijah

Panggung Utama World Book Day 2007

Oleh Penerbit Pena Pundi Aksara



18.30-21.00

LITERACY: ART

Ajang Kumpul Komunitas Buku

Musikalisasi puisi oleh SASINA UI, Teater Dils, Roma Merana Rumah Baca Kwartet, Tari Salsa Trio Ceriwis, Duet Pianika, Rumah Pelangi, Library Lovers Club SMU 49 Jakarta

Panggung Utama World Book Day 2007





Minggu, 29 April 2007
Komunitas




09.00-19.30

Pameran Komunitas Literasi dan Bursa Buku Murah

Plasa Depdiknas



09.30-10.30

Operet Anak dan Soft Launching Website KKS Melati

Panggung Utama World Book Day

Oleh KKS Melati



09.00-11.00

LITERACY: WORKSHOP 5

“10 Cara Pedekate Dengan Komik”

Ruang Belajar Perpustakaan Diknas

Oleh Masyarakat Komik Indonesia

Informasi hubungi Oyas 081322338807 atau Wahyu 08151892437



09.00-15.00

LITERACY: COMMUNITY 6

Literasi untuk Keluarga Muda

Ruang Tengah Perpustakaan Depdiknas

Oleh Lembaga Bina Anak dan Pengembangan Masyarakat Fedus




10.31-11.30

LITERACY: WORKSHOP 6

Pelajaran Tengwar

Panggung Anak dan Remaja

Oleh Eorlingas

Informasi hubungi Riri 0811968625



11.30-13.00

LITERACY: COMMUNITY 7

Bengkel Pena FLP (Konsultasi Penulisan)

Panggung Anak dan Remaja

Oleh Forum Lingkar Pena

Info hubungi Koko 081367675459



11.00-12.30

LITERACY: FORUM 2

Kopi Darat Komunitas Literasi Maya

Pembicara: Para Moderator Milist Literasi

Panggung Utama World Book Day 2007




13.00-14.00

LITERACY: TALK 9

Bincang Santai “Menunggu Harry Potter 7 Terbit: Catatan, Prediksi, dan Harapan”

Pembicara:

1. Poppy Kartadikarya (Penerjemah Magical World of Harry Potter)

2. Andari Karina Anom (Wartawan Tempo)

3. Hadi Patronossto

Moderator Indo Harry Potter

Panggung Utama World Book Day 2007

Oleh Indo Harry Potter Info Hubungi Hadi 08567876956



13.00-15.00

LITERACY: EVENT 2

Lomba Membuat Komik

Tema”Pengalaman Tak Terlupakan Seumur Hidup”

Panggung Anak dan Remaja

Oleh Masyarakat Komik Indonesia



14.00-14.30

LITERACY: COMMUNITY 8

Pertunjukan Teater Meldic

Panggung Utama World Book Day

Oleh Yayassan Mitra Netra



14.30-15.00

LITERACY: EVENT 3

Pengumauman Lomba Asah Otak

Taman Bacaan Mutiara Ilmu

Di Panggung Utama Worl Book Day

Oleh Mutiara Ilmu



15.00-17.00

LITERACY: FORUM 3

Semua Bisa Melakukan Perubahan

Moderator : Agus Irham

Pembicara:

1. Ibu Jaojah (Library Lovers Club SMU 49)

2. Ima (Mutiara Ilmu)

3. Anya (Komunitas Bunga Matahari)

Panggung Utama World Book Day 2007



17.00-17.30

Pengumuman Lomba Berburu Buku dan Tebak Buku untuk Remaja dan Dewasa sekaligus
Penutupan Perayaan World Book Day 2007.
Panggung Utama World Book Day 2007



Jadi, silakan menyemarakkan World Book Day 2007... :)

Labels:


baca selengkapnya...!  
posted by isma at 1:58 AM | Permalink | 1 comments
Monday, January 01, 2007
INFO: Buku Baru Matapena
Buku baru lagi dari Matapena…
Ja’a Jutek, ditulis oleh Isma Kazee. Memotret model interaksi anak-anak santri yang punya bermacam-macam karakter, di antaranya santri yang berkarakter jutek. Tidak cuma jutek, Ita, demikian nama tokoh utamanya, juga pelit dan sok. Sementara ia harus bergaul selama 24 jam dengan kesepuluh teman kemarnya di Zaitun 3. Apa yang akan terjadi selanjutnya, termasuk bagaimana kreativitas anak-anak Zaitun 3 menghadapi kejutekan Ita, bisa jadi hanya akan ditemukan dalam pesantren. Lucu memang, tapi penuh nilai, nilai untuk menjadi pribadi yang manis dan bisa menghargai orang lain meskipun henya dengan berbagi memakai ember tempat cuci pakaian.
Buku kedua adalah Pinangan buat Naura. Kumpulan cerpen pertama punya Fina Af’idatussofa yang diterbitkan. Salah satunya adalah Pinangan buat Nuara yang bercerita tentang nasib cinta Naura yang berada di ujung tanduk. Ia harus memilih antara mempertahankan cintanya pada Ari yang tidak disetujui abah-uminya, atau menerima pinangan Gus Ismail, pilihan yang sesuai dengan tradisi dalam keluarganya.
Temukan jawabannya, dan selamat membaca…






Labels:


baca selengkapnya...!  
posted by KOMUNITAS MATAPENA at 9:03 PM | Permalink | 0 comments